Kamis, 13 Juni 2013

Aku Sayang Kalian


Inilah Keluargaku Bapak, Ibu, dan Kakakku,

Aku sangat bersyukur dengan orang tua yang kumiliki saat ini, mereka selalu mendukung apa yang kulakukan. mereka juga selalu menasehatiku dengan lembut, mereka selalu mendukung dan tersenyum menyemangatiku saat aku menoleh ragu, terimakasih Bapak Ibukku :D . Begitu jga Kakakku dia menyampaikan rasa sayangnya melalui hal yang berbeda, tanpa disadari dia selalu mengalah untukku, terimakasih kakak :D

Bapakku berasal dari keluarga yang kekurangan, oleh karenanya dulu untuk memenuhi kebutuhannya, uang jajannya dia harus berjuang keras berjualan es. Namun semanngatnya yang tinggi membawanya merantau jauh dari rumah, dengan harapan dan tekat besar untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik, benar saja dengan segala kerja kerasnya beliau dapat membuktikan bahwa seorang dengan latar belakang pendidikan yang rendah juga dapat menyeklahkan anak pertamanya sampai lulus D3 dan sekarang akan melanjutkan S1. Aku sayang Bapak

Ibuku, kehidupan ibuku tak jauh berbeda dari bapak, aku sangat kagum padanya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja keras membesarkan kedua anaknya sekaligus harus mengurus toko kelontongnya . Aku sayang Ibu

Kakakku meskipun dulu kita selalu bertengkar, Tapi Akku sayang kakak

Pendidikan Alternatif 'Qaryah Thayyibah' di Salatiga




Tak terbayangkan dalam benak kita ada sekolah tanpa pagar, tanpa tiang bendera, tanpa bel, tanpa gedung sekolah, bahkan tanpa plang yang menunjukkan bahwa ada sekolah. Tetapi itulah yang terjadi di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Sebuah komunitas belajar yang mengusung ide pendidikan alternatif muncul dan mengagetkan dunia pendidikan kita yang carut marut ini. Gaungnya tidak hanya bergema di negeri ini namun sudah terdengar hingga kancah internasional.

            Sudah mengendap dalam benak kita bahwa kalau ingin menuntut ilmu berarti kita harus sekolah. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Masalahnya, sekolah saat ini tidak hanya menuntut tekad bulat untuk menuntut ilmu, namun juga harus diiringi kesediaan merogoh kocek dalam-dalam. Untuk menyekolahkan anak setingkat SD di sekolah negeri, meski disebut gratis, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan orangtua saat awal masuk sekolah berkisar antara 100 hingga 500 ribu rupiah, misalnya untuk seragam, buku, dan lain-lain. Sementara untuk masuk SD swasta, apalagi SD favorit di kota besar, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai jutaan rupiah.
            Demikian juga ketika kita ingin menyekolahkan anak di tingkat SMP dan SMA. Biaya yang dikeluarkan tentu lebih tinggi. Kira-kira 500 sampai 1 juta rupiah harus disediakan orangtua pada saat penerimaan siswa baru. Uang sebesar itu tentu tidak terasa besar bagi mereka yang berpenghasilan rutin dengan jumlah jutaan rupiah. Namun bagi mereka yang tidak punya penghasilan tetap tentunya uang sejumlah itu akan sangat membebani hidup. Bayangkan saja, untuk biaya makan sehari-hari saja sudah susah apalagi harus menanggung biaya sekolah yang tidak sedikit.
            Keresahan mengenai mahalnya biaya pendidikan pun mendorong Bahruddin, inisiator sekaligus penggerak model pendidikan alternatif di Salatiga mengajukan ide untuk membangun Learning Based Community (pendidikan berbasis komunitas) di desa Kalibening, kecamatan Tingkir, Salatiga. 'Sekolah' yang pada awalnya menampung 12 siswa setingkat SMP ini diberi nama Qaryah Thayyibah (QT) yang berarti Desa milik Allah yang dilimpahi keberkahan. Kini QT sudah memiliki 150 siswa setingkat SMP dan SMA.


Belajar sesuai kebutuhan
            Pendidikan akternatif yang digagas oleh Bahruddin merupakan konsep yang dia kembangkan sendiri berdasar pengalaman dan buku-buku yang dibacanya. Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan pada siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai. Guru (di QT disebut pendamping) hanya memberikan ide atau masukan, apakah nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.
            Konsepnya mirip dengan homeschooling, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Pertama, homeschooling masih memiliki kurikulum dan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa. Sedang di QT tidak ada acuan mata pelajaran. Semua siswa bebas menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Kedua, pelaksanaan homeschooling sering dikritik membatasi interaksi anak dengan orang lain. Sedangkan di QT, lingkungan sekitar dan masyarakatnya adalah 'sekolah' bagi siswa QT. Jadi model pendidikan alternatif dijamin tidak akan mengisolasi siswa dari lingkungannya. Justru mendorong siswa untuk terlibat aktif di lingkungannya.
            Karena berbasis pada lingkungan pulalah, siswa QT diharapkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi lingkungan tempat mereka berada. “Ada seorang warga yang mengeluh pada anaknya kalau sekarang ini mau makan makanan yang bergizi harganya serba mahal. Lalu anaknya membawa permasalahan itu ke sekolah, anak-anak berdiskusi dan muncullah ide untuk membuat peternakan belut. Lalu anak-anak belajar tentang budidaya belut lalu sama-sama mereka praktek membudidayakannya,” cerita Bahruddin.
            Sungguh berbeda jauh dengan kebanyakan kita yang sudah melahap berbagai pelajaran di sekolah namun tidak mampu memberikan solusi pada permasalahan sekitar. “Selama ini kita kan diajarkan agar banyak menyerap pengetahuan tapi akhirnya kita malah jadi konsumtif alias tidak produktif. Pengetahuan itu seperti vitamin, dibutuhkan untuk tubuh kita secukupnya saja jangan sampai berlebih,” tambah ayah 3 anak ini.

             
Mandiri dalam belajar
            Pendidikan alternatif yang diusung Bahruddin sebenarnya mendidik anak agar mandiri dalam belajar. Ini hal penting yang justru sering tidak kita dapatkan di dunia pendidikan kita. Anak-anak yang pergi ke sekolah setiap pagi, pulang sore hari, 6 hari selama seminggu, kebanyakan datang ke sekolah lebih sebagai formalitas bukan dengan niat murni untuk menuntut ilmu. Sampaidi sekolah pun anak memposisikan diri sebagai 'wadah' yang siap menerima apa pun yang diberikan oleh guru. Padahal hakekatnya, anak bukanlah tempat kosong yang tidak berisi apa-apa. Artinya, anak-anak itu sudah memiliki bekal-bekal yang dapat mendorong mereka untuk belajar. Misalnya pengalaman, informasi dari televisi, buku maupun dari tempat lain.
            Hal seperti itu tidak terjadi di QT. “Aku kan emang dari awal suka musik. Aku belajar sendiri dengan baca internet dan download video-video tentang musik. Terus aku mau belajar gitar, belajarnya dengan cari di internet gimana caranya main gitar lalu aku coba-coba sendiri sampai bisa. Terus kalau bikin lagu, aku kan punya temen yang bisa buat lagu ya aku belajar sama temenku itu dan ini bisa dilakukan sendiri saja dan kadang kami juga mendatangkan guru juga. Pas mau rekaman juga gitu. Aku ikut temen atau lihat Pak De (paman-red) yang memang pemusik, gimana caranya rekaman. Liat di studio, aku pelajari dan aku bawa ke sini untuk dipelajari sama-sama dengan teman-teman,” ungkap Ikhwan (19), salah seorang lulusan QT.
            Hal menarik yang bisa kita dapatkan dari QT ini, anak jadi terbiasa belajar secara mandiri. Bayangkan, jika selama 6 tahun mereka dilatih untuk memilih sendiri apa yang akan mereka pelajari. Juga merumuskan sendiri (bersama teman satu forum) materi yang akan dipelajari dan menyiapkan sendiri segala macam perangkat yang dibutuhkan untuk belajar, maka bisa dipastikan setelah lulus 'sekolah' dia tidak akan kesulitan untuk terus belajar meski sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
            Sementara fenomena yang sering kita lihat, banyak anak lulus SMA belum memiliki karya, bahkan banyak yang menjadi 'masalah' bagi lingkungannya. Padahal dalam Islam juga ada terminologi bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi lingkungannya.Dengan kata lain orang yang paling baik bisa menyelesaikan permasalahan lingkungannya.

Dibebaskan justru berprestasi
            Banyak yang berpikir bahwa untuk berprestasi anak harus diberikan pengarahan dengan ketat. Diikutkan berbagai les dengan jadwal yang padat, tidak banyak bermain-main dan penuh dengan hal serius lainnya. Ternyata hal ini terpatahkan dengan sistem pendidikan alternatif di QT. Dengan ketiadan jadwal pelajaran,  tanpa guru, gedung sekolah, laboratorium justru mendorong para siswa untuk kreatif.
            “Maia Rosyida, sudah menulis 20 buku. Saat ini umurnya 18 tahun,” ungkap Bahruddin. Saat mulai bersekolah di Qoryah Thayyibah, Maia menyampaikan kalau suka menulis, maka yang dilakukan para pendamping adalah mendukung dan mendorongnya untuk terus menulis. Hasilnya, benar-benar tak terduga, karena si anak didukung melakukan sesuatu yang sesuai minatnya, dalam waktu singkat 20 buku berhasil ditulisnya. Sebagian dijilid, di-copy dan disebarluaskan oleh pihak sekolah, sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit profesional.
            Fina, Izza dan Siti, tiga orang siswa QT berhasil menerima penghargaan Creative Kids Award dari Yayasan Creatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi. Ketiga anak itu membuat karya tulis berjudul “Haruskah UN Dihapus?” Karya tulis itu dibuat sebagai tugas akhir sebelum mereka lulus dari QT.
            Belum lagi sejumlah karya berupa hasil penelitian, film, musik yang dibuat oleh siswa-siswa QT. Semua karya tersebut ide orisinal dari si anak dengan masukan para pendamping. Beberapa siswa sudah biasa diminta berbicara di depan para pejabat publik, seperti Hilmy (15) yang diminta berpidato di depan 90 kepala sekolah berprestasi di seluruh Indonesia. Semua karya yang mengagumkan itu bersumber pada sebuah prinsip pendidikan yang membebaskan anak untuk mempelajari apa yang dia suka, sambil tetap mendampingi dan mendukung sebisa mungkin.



Mengelola internet sendiri
            Salah satu perangkat yang berperan penting dalam pelaksanaan pendidikan alternatif QT adalah akses internet penuh 24 jam. Semua siswa 'dibiarkan' mandiri belajar, salah satunya dengan panduan “Om” Google. Akses internet memang ibarat samudra luas tanpa batas yang berisi segala hal, baik yang positif maupun negatif. Di QT, semua siswa bebas mengakses internet, tentunya tetap dengan aturan tertentu. Sebab kebebasan yang bertanggungjawab adalah prinsipnya.
            Bagaimana komunitas ini bisa memiliki akses internet 24 jam? Awalnya memang ada seorang pengusaha yang menyediakan internet di komunitas ini. Namun kemudian, komunitas ini memakai jasa internet yang diluncurkan Telkom dan dikelola secara mandiri. Mereka membuat aturan seperti biaya Rp2000 per-jam untuk pemakaiani internet. Dari hasil pengelolaan internet itu mereka mampu membayar tagihan internet plus membayar uang listrik per bulannya.
            Dari pengalaman komunitas ini kita bisa belajar bahwa jika anak-anak usia 13-19 tahun yang tinggal di lereng gunung saja bisa mengelola 'sekolah'nya dengan baik, maka sebenarnya hal yang sama bisa juga dilakukan di tempat lain dan oleh siapa pun. Hanya dibutuhkan komitmen yang kuat dan kemauan untuk mewujudkannya. Terasa berat? Bisa jadi, sebagai awalnya. Namun tidak ada kata tidak mungkin jika kita mau mencobanya.

SMP Alternatif

Haruskah pendidikan yang berkualitas itu selalu mahal? Sekolah Qaryah Thayyibah (Desa Indah) membuktikan bahwa untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, anak-anak tidak perlu membayar mahal.


Qaryah Thayyibah (QT) ber­diri di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah pada tahun 2003. Sekolah ini lahir dari keprihatinan riil yang berlangsung di masyarakat setempat. Ahmad Bahruddin adalah pendiri sekolah ini. Warga asli desa tersebut memiliki anak laki-laki yang pada pertengahan 2003 hendak masuk SMP. Dia mampu membiayai sekolah anaknya. Tetapi, dia melihat tetangga-tetangganya tidak mampu menghadapi situasi tersebut. Dia merasakan sendiri bagaimana pendidikan di negeri ini menjadi sebuah tragedi untuk banyak warga miskin. Dari sana dia tergerak dan berpikir keras.

SMP Terbuka


Bahruddin yang adalah putra seorang Kiai desa tersebut, mewarisi kharisma dan bakat kepemimpinan ayahnya. Ia segera berembug dengan warga sekitarnya. Hasil rembugan ini membuahkan SLTP Terbuka. Mula-mula, sekolah menginduk pada sekolah negeri.

Dua belas anak terdaftar di sekolah ini. “Seperti jumlah murid Yesus,” kata Bahruddin sedikit bercanda. “Hanya di sini tidak ada yang menjadi Yudas.” Mereka berasal dari masyarakat sekitar, yang sehari-hari adalah petani, penjual jamu gendong, dan sebagainya. Ada juga keluarga yang berkecukupan yang juga mengirimkan anaknya ke QT.

Prinsip pertama yang menjadi pegangan Bahruddin ketika merintis sekolah adalah prinsip fungsional, yaitu memikirkan dan mengadakan sarana yang benar-benar dibutuhkan dan tidak bisa digantikan. Usaha untuk merealisasikan semua, termasuk komputer dan makanan bergizi, dimulai denganiuran tiga ribu rupiah setiap hari. Ini adalah jumlah uang minimal yang ada di saku anak sekolah dari keluarga miskin di Desa Kalibening.

Dengan dukungan dan bantuan seorang pengusaha Katolik di Salatiga, internet bisa diakses 24 jam penuh. Ini berlangsung pada tahun 2003, ketika institusi sebesar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga saja belum memiliki pusat internet.

Komunitas belajar


Filsafat pendidikan Sekolah QT adalah membangun sebuah komunitas belajar. Di sana diciptakan ruang kebebasan anak. Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan anak. Dalam hal ini, anak diberi kesempatan menentukan macam aktivitas dan materi yang hendak dipelajari. Jika ingin menulis, silakan menulis. Lainnya membaca novel, membuka internet atau bereksperimen.

“Inspirasi dan kurikulum berasal dari anak-anak,” demikian keyakinan Bahruddin. Peranan guru bukan mendikte atau mengajar, melainkan mendukung kecenderungan anak didik. Bahkan, guru tidak perlu mengarahkan si anak. Semua anak diandaikan cerdas dan memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Penyeragaman justru merusak anak. Padahal, pendidikan adalah abstraksi dari kehidupan.

Anak-anak bukan berkompetisi, melainkan membangun persahabatan. Di sinilah letak pemicunya. Tidak ada ranking, karena pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasannya sendiri-sendiri. Selain itu, sistem ranking hanya menciptakan musuh. Musuh yang sesungguhnya adalah kebodohan diri sendiri.

Sistem memberikan hasil yang mencengangkan. Beberapa siswa-siswi QT mengungguli siswa-siswi sekolah induknya dalam seluruh mata pelajaran. Dalam umur belasan tahun, dua siswi menulis belasan buku dan novel. Lainnya, menggambar kartun dan membuat film pendek, dan sebagainya.

Meski sangat progresif, anak-anak ini mendalami kebudayaan lokal dan rakyat. Mereka menyanyi dan menciptakan lagu dangdut dan tembang Jawa. Tentu saja lirik di dalamnya bernuansakan nilai anak dan pendidikan.

QT adalah komunitas belajar. Alangkah baiknya bila ada usaha pembentukan komunitas belajar baru semacam QT di tempat-tempat lain. Mereka tidak perlu bergabung ke dalam QT. QT sendiri tidak mendukung keinginan anak dari luar komunitas QT yang hendak bergabung dengan QT. Tetapi, mendirikan banyak komunitas belajar yang cerdas (seperti QT) di tempat lain, bukanlah persoalan yang mudah dipecahkan.

Motivasi Saya

Apa tujuan hidup saya ?,berada di jalan Allah dan berguna bagi orang lain

"Tantangan hidup itu sangat diperlukan, agar orang senantiasa bertindak lebih maju" Saya

"Kepercayaan diri itu penting ,karena setiap hal yang kita lakukan kita harus memiliki kepercayaan diri agar apapun yang kita lakukan menuai hasil yang maksimal" saya

"Ketia kita masih kecil kita selalu penuh dengan impian. Tapi semua itu pudar seiring bertambahnya usia kita, bertambahnya keraguan kita, bertambahnya ketakutan kita akan kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan" Saya

" Lakukanah sesuatu dengan yang benar-benar kau sukai, dengan begitu kau akan menerima semua hasilnya dengan tanpa penyesalan, dan bertanggung jawablah atas apapun yang kau lakukan " Bapak saya

" Orang yang tertawa paling keras, akan menangis paling keras, dan akan marah paling seram juga. like me -_-V "

"Saya sangat percaya dengan hukum newton  "ada aksi ada reaksi" karena didunia ini apapun yang kita sudah kerjakan, kita akan menuai hasilnya di kemudian hari. baik atau buruk hasilnya itu tergantung dari apa yang kita kerjakan " Saya


"Sedekah itu menghapuskan kesalahan. Seperti air yang memadamkan api" HR. At Tirmidzi

"semakin bannyak yang kau buang, semakin banyak kau terima" itu Zakat

"YAKIN" Allah memintamu untuk yakin kepada-Nya. Maka ketika kau yakin kepada-Nya maka kau akan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan kau akan semakin dekat denganNya

Ungkapkan Perasaanmu



mengatak maksud kepada orang lain sangat penting,agar orang itu bisa mengerti dan memahami apa yang kita inginkan jangan hanya bungkam dan menyimpan gumam dalam hati
karena itu akan sia-sia, karena jika orang itu tidak bisa mengerti apa
yang kita inginkan kita akan kesal sendiri
untuk itu katakanlah apa yang ingin kau katakan karena penyesalan selalu datang terlambat


Perpisahan






Apa kita benar berpisah?, kita baju saja mulai,
kenapa aku tidak merasa kita akan berpisah?,
karena kalian terlalu dekat,terlalu mudah dirangkul dan digenggam untuk saat ini
berpisah ya?, ya oke kita berpisah
kita akan tumbuh dan menjadi dewasa di tempat berbeda menyadari diri bahwa kita akan berubah menjadi pribadi yang ebih baik
kita akan bertemu orang-orang baru yang tidak sama dengan orang-orang yang sekaranng
namun itu tak akan bisa dielakkan
kita akan pergi dari gedung biru ini
berjalan ke depan meninggalkan mereka (guru&teman) yang telah menitipkan harapan perubahan di dalam diri kita
menitipkan kasih sayang dalam hati kita menitipkan ilmunya di kepala kita selama 3 tahun ini
terimakasih dan selamat tinggal
Sukses:D

Selasa, 31 Juli 2012

Botol Cinta Arjuna

Ku lempar keras menabrak
Sang Arjuna menatap balik
Lirikkan asmara mengetuk-etuk
Ku hela nafas seraya merunduk

Bekasnya tak terhapus 
Walau akhirnya harappan pupus
Namun hasrat tak jua putus
Jalan Arjuna tak jua mulus
Kan kuperjuangkan segengam cinta
Pada dirimu duhai Arjuna
Pandang Dinda sekali saja
Sekali untuk selamanya